Mulai hari ini ada yang berubah di situs resmi 21 cineplex, hanya terlihat 2 film barat yang ada, beda dengan sehari yang lalu ketika saya membaca koran lokal yang masih penuh dengan film “barat”, anda juga bisa kunjungi bioskop hari ini, akan nampak kekosongan besar di bioskop, dimana tinggal film produksi Indonesia saja yang terpampang (tentu dengan judul yang “aduhh”)

Bisa dipastikan bahwa hal ini dikarenakan boikot dari Motion Picture Association (MPA), asosiasi pengusaha industri film di Amerika, dengan anggota seperti Walt Disney Pictures, Paramount Pictures, Sony Pictures Entertainment, Twentieth Century Fox Film, Universal Pictures and Warner Bros. Entertainment. Dari nama nama diatas sudah tentu film merekalah yang biasa menghiasi papan 21 cineplex, dengan film bermutunya.

Boikot dari MPA seperti dilansir di televisi semalam dan dari berita di website adalah karena naiknya pajak masuk import untuk film dari US, dan kenaikan ini tidak diimbangi dengan keseriusan pihak berwajib memberantas pembajakan, sehingga MPA mungkin melihat ini adalah hal yang tidak masuk akal.

Berapa pajak yang ditanggung oleh pengusaha film saat ini? Dari informasi (belum bisa dipastikan kebenarannya, karena belum ditemukan data resmi dari dinas pajak atau dinas yang bersangkutan) setiap film dari luar negeri akan dikenai ->

Pajak Pertambahan Nilai (PPN) + Pajak Penghasilan (PPh) + Biaya Masuk = +/- 23%
(dari nilai barang)

pajak ini masih ditambah dengan pajak hiburan yang berbeda untuk tiap daerah, dengan kisaran 10% hingga 15%, yang masuk ke kas Pemda setempat (bukan preman setempat ya).

Pemasukan pajak itu sebenarnya adalah hal yang wajar, JIKA, ingat ada kata JIKA, diimbangi dengan perubahaan di hal lain yang memang berkaitan, dalam konteks dunia perfilman ini adalah dengan menghajar para pembajak, sehingga memaksa orang untuk datang ke bioskop (atau melalui cara lain semisal TV Kabel), hal ini tentu juga akan mendorong produsen film indonesia untuk lebih meningkatkan mutu film Indonesia

Kenapa banyak orang sedih dan mengeluh ketika pemboikotan ini terjadi?
yah pastinya dikarenakan film Indonesia dirasa semakin menyedihkan, mulai dari tema, jalan ceritanya, hingga aktingnya. Bayangkan ketika film barat sudah masuk hingga psikologi, masa depan, hingga bermain di mockumentary, film indonesia masih aja bermain di si A cinta B dan si B cinta C, tapi C cinta A (aneh), terus ibunya A gak setuju, bapaknya B cinta ibunya C, dan endingnya tetep jadian, atau ada setan A ngesot dimana gitu (tinggal sebutin nama daerah yang anda sukai), terus kejar sana kejar sini, akhirnya ke dukun, dibilang cara sembuhinnya gini, tumbal sana tumbal sini, sembuh, bubar :(

Saya berharap MPA tetap memboikot semua film mereka hingga pihak berwajib serius menghajar pembajakan, terutama pembajakan digital, sehingga dampak positif bisa diterima banyak pihak, terutama yang berhubungan dengan kualitas film, kualitas mental, kualitas untuk menjadi produsen!