Jakarta – Cirebon dengan Kondisi Rem 50%

bagikan ..Share on FacebookTweet about this on TwitterPin on PinterestShare on Google+Share on Tumblr

Minggu 7 Maret 2010, Pintu Tol Jatibening Jakarta, 18.30, ketika itu saya berkempatan memilih untuk mencicipi keberanian pengemudi bis Jakarta – Cirebon, dengan klakson kapal yang besar di atapnya, lampu yang tidak terlalu terang, mesin tua, dengan ban belakangnya menggunakan vulkanisir, lengkap dengan tempat duduk yang sempit dan keras. Duduk tepat dibelakang pengemudi.

Perjalanan dimulai dengan begitu sempurna, di jalan tol berjalur 4, kecepatan dipacu kisaran 100km/jam, mesinnya menjerit begitu keras, berlenggak lenggok laksana kapal laut menghindari ranjau ataupun karang, menempel kiri kanan kendaraan lain .. begitu menegangkan mungkin bagi orang yang terbiasa dengan kehidupan tenang, tapi tidak diperdulikan oleh penumpang yang sudah terlihat lelah dan memilih berdoa dan memejamkan mata sambil memikirkan kehangatan rumah.

“Di darat Jayamahe”, di darat kita jaya, begitu semboyan bis menurut saya, ketika di tengah jalan, masih di tol, bis mencoba berhenti untuk mengambil penumpang dipinggiran jalan tol, ketika disadari rem-nya tidak berfungsi dengan baik, setelah dipacu 100km/jam dan mendadak menginjak rem, 1detik pertama respon bis terseok kekiri, detik berikutnya rem dilepas dan pengemudi mencoba menstabilkan bis, detik berikutnya rem di injak lagi dan pantat bis terseok kekanan, detik berikutnya rem dilepas lagi, stabil, detik berikutnya di injak lagi dan baru bisa berhenti ..

Setelah itu bis dipacu lagi, dan dimulailah percakapan pengemudi, kondektur dan kernet, yang sayang dilakukan dalam bahasa daerah yang saya kurang pahami, yang intinya mereka sedang membicarakan tentang kampas rem .. nampaknya rem bis ini bermasalah .. sepanjang tol pengemudi menggerutu terus, tetapi bis tetap dipacu penuh ..

keluar dari tol, barulah terasa beda, pengemudi terlihat lebih hati hati mengemudikan bisnya, tetap dengan mengomel, tetapi tidak lagi terlalu menempel kendaraan di depannya. Bis terasa bising, pengamen berlomba menjerit dengan seorang bayi, penjual tetap semangat berjaja, dan kernet yang berteriak teriak terus, sedangkan mesin berada didepan dan meraung keras ..

Walupun rem tidak berfungsi baik, bis ini tetap berlari dengan penuh, meninggalkan bis bis malam, satu persatu di lewati, sambil sesekali mencoba mengerem mendadak ketika ada penumpang dipinggir jalan .. injak, lepas, injak, lepas, injak lepas, baru berhenti .. setiap ada perempatan perempatan kecil klaksonnya berteriak seperti berteriak “minggir, saya tidak bisa berhenti mendadak” ..

berkali kali sepeda motor yang sedang menyeberang hampir tertabrak, karena bis ini memilih untuk tidak mencoba untuk mengerem .. bahkan beberapa kali pantat bis di depannya hampir dicium .. seorang penumpang pindah duduk agak kebelakang ..

seorang ibu membawa anaknya naik, dan langsung duduk di kursi belakang kernet, dan kernetnya bilang
“duduk di tengah aja bu”
ibu itu “sini aja, kena angin”
kernet “masuk aja buk, ketengah .. kosong kok”
ibu itu “gak pa pa mas, sini aja”
kernet “bukkkk (agak marah), ke tengah aja”
ibuk itu dengan cemberut masuk ketengah ..

tidak sadarkah ibu itu kalo bis ini remnya gak berfungsi dengan baik?

seorang penjual makanan malah bertanya ke kernet “nge-rem-nya kok gak enak”
kernet menjawab “rusak, remnya kering” (pake bahasa daerah, kurang mengerti, hanya kata2 itu yang tertangkap)

penjual makanan tadi malam duduk di atas kap mesin dan mengobrol dengan pengemudinya .. dia bukannya takut malah melihat hal ini sebagai sebuah permainan yang indah ..

lepas dari pertigaan indramayu, belok kanan, bis dipacu lebih gila lagi, karena terlihat bis saingannya ada didepan, suatu ketika ketika mencoba menyalip 2 buah bis, dengan brutalnya memaksa sebuah mobil dan becak (dari arah berlawanan) turun ke jalan, karena rem bis ini tidak cukup untuk menghentikan laju sehingga pengemudi memilih untuk memaksa kendaraan lain minggir ..

aku hanya tersenyum .. menyenangkan 😀

mendekati tempatku turun, lewat dari sebuah lampu merah, posisi ada di kiri menempel bis merah (hayo apa), mendadak bis merah di depan kami lampu remnya menyala terang, pengemudi bis ku terkejut, mencoba mengerem tapi sudah dekat, terpaksa buang kanan, dan dari belakang terdengar jeritan klakson bis, ban bis kami sedikit menyenggol pembatas jalan di kanan, tapi bis selamat, dan kernet menyumpah serapah kepada bis merah setelah bisa kami lewati ..

bis masi digenjot dengan semangat, kayaknya pengemudi lupa kalo remnya gak “makan” ..

sudah dekat tempatku turu, bersiap dan “injak lepas injak lepas injak lepas”, bis agak berenti, aku lompat dan berteriak “terimakasih” ..

terimakasih untuk pengalaman yang berharga tapi berbahaya ini 🙂
pintu tol jati bening jakarta 18.30, pintu tol palimanan 22.58