Nenek moyangku bangsa pemberani: Bis Di Indonesia

bagikan ..Share on FacebookTweet about this on TwitterPin on PinterestShare on Google+Share on Tumblr

Hari minggu 7 Maret 2010 menunggu bis untuk kembali ke jogja di Pintu Tol Jatibening Jakarta, sambil mengamati bis baik bis kota maupun bis luar kota.

Nenek moyang ku bangsa pelaut, begitu kita sering dengar tentang keberanian dan kemampuan nenek moyang kita di lautan, seperti juga slogan “Jalesveva Jayamahe”, di lautan kita jaya, sebuah seruan keberanian dan semangat Angkatan Laut TNI.  Nah, sambil menongkrong di jatibening itulah saya juga melihat bis bis di Indonesia terlihat seperti gerombolan kapal di lautan, tersebar banyak, menjadi andalan dalam transportasi darat.

Jika di lautan kapal kapal Indonesia beserta pelautnya terkenal berani mengarungi lautan yang ganas dengan kapal yang terbatas peralatan, bis di Indonesia saya lihat juga mempunyai keberanian yang sama. Coba lihat banyak sekali bis yang terlihat sudah menyedihkan, mulai dari bodi yang terlihat reyot, lampu yang tidak terang, ban belakang vulkanisir (ban bekas tipis yang ditambahkan lapisan karet), mesin yang sudah tua, kampas rem palsu / kualitas 2 bahkan 3, tempat duduk yang sempit dan sudah rusak disana sini, hingga kualitas pengemudi yang muda atau kurang berpengalaman, asal jalan lah .. tidak pula perlu kita pikirkan emisi gas buang bis tersebut apakah sudah memenuhi standar (Euro 1/2/3) ..  bis bis ini dengan keberanian sempurna tetap berjuang mengarungi kepadatan jalanan, ber-zig-zag memacu kendaraannya, mencoba mengais penumpang sebanyak banyaknya, tanpa memperdulikan penumpang yang sudah lelah terhimpit bak ikan dalam kaleng tua ..

Keberanian para pengemudi ini kemudian saya buktikan sendiri dengan menaiki sebuah bis tua yang boleh dibilang mempunyai mental yang sama dengan para pelaut kita mengarungi lautan yang ganas. Dengan keterbatasan lampu yang tidak terang, dan rem yang hanya berfungsi 50% sehingga membutuhkan jarak yang cukup lumayan untuk berhenti, pengemudi ini tetap dengan sempurnanya menginjak gas hingga kecepatan 100km/jam, dengan klakson kapalnya yang besar layaknya sebuah kapal di bunyikan setiap kali melewati simpang simpang di jalur pantai utara, sebuah peringatan bahwa maut mendekati anda dan lebih baik anda minggir.

Nenek moyangku adalah bangsa pemberani, pengemudi bis adalah orang yang pemberani, tetapi apakah keberanian ini sebanding dengan nyawa penumpang yang dipertaruhkan? Banyak juga penumpang yang tidak peduli dengan nyawanya, seperti yang saya, yang malah memilih untuk duduk di paling depan dan ngobrol dengan pengemudinya, bukannya memilih untuk turun ketika mengetahui bahwa remnya tidak berfungsi dengan baik. Apakah sebuah keberanian juga jika awak bis mengakui kepada penumpangnya bahwa bis bermasalah dan lebih baik para penumpang berganti bis?

Apakah keberanian kita sementara ini lebih karena alasan perut / uang / ekonomi? seperti nelayan yang nekat berlayar meski ombak mengganas dengan alasan kebutuhan ekonomi?

Di darat kita jaya, dilautan kita jaya, karena uanglah semua jaya .. duh 🙁

Baca cerita perjalanannya disini.