0
29
Nov

Digital Magazine: kolaborasi majalah untuk jualan onlin

No News is Bad News ~ gambar dari LP3Y

No News is Bad News ~ gambar dari LP3Y

Online, kemajuan teknologi ‘memaksa’ surat kabar cetak untuk beralih ke media baru ini, seiring semakin banyaknya pengguna yang memilih membaca berita melalui peralatan digital mereka seperti komputer, handphone ataupun e-reader. Beberapa surat kabar Indonesia juga sudah mulai men-digital-kan berita mereka melalui website (dan hanya beberapa yang sukses), dengan harapan bisa memenangkan pasar di dua dunia, offline dan online, atau bahkan hanya konsentrasi kepada online saja.

Banyak riset yang memberikan statistik betapa besarnya pasar pengguna online, untuk di Indonesia, seperti yang diberikan oleh LP3ES1, saat ini media cetak masih akan bertahan 10 hingga 15 tahun kedepan, tetapi untuk di (contoh) Amerika, pergeseran ini begitu besar, yang bahkan memaksa beberapa suratkabar cetak gugur. Saya belom menemukan statistik untuk pembaca online, tetapi ada sumber bagus tentang statistik pengguna online di New York Times2, dimana pengguna (pada tahun 2007) pengunjung website sebesar 13juta, sedangkan oplah cetak adalah 1juta, sehingga kita bisa lihat begitu besarnya pengguna online, walaupun hanya beberapa halaman saja yang dibaca, tetapi dengan statistik diatas dapat disimpulkan bahwa media online lebih banyak pengunjung (kesimpulan ini berdasarkan statistik diatas).

Lalu bagaimana dengan majalah? Seharusnya (ini asumsi) majalah pun memiliki permasalahan yang sama dengan suratkabar, yang menuntut mereka juga untuk memutar otak membuat terobosan dalam dunia online, tidak sekedar hanya membuat website, tetapi menguatkan fitur yang bisa digunakan untuk menjaring pengunjung.

Bulan ini ada informasi3 bahwa Time, People, Vanity Fair, Sports Illustrated, The New Yorker and Esquire sedang berusaha mengembangkan sebuah toko online seperti iTunes, yang menawarkan pembelian majalah digital secara online. Konsep ini berbeda dengan website standar, yang biasanya hanya menawarkan berita secara gratis, atau harus berlangganan per bulan (sebagai member). Konsep majalah ini (ini juga asumsi) seperti toko musik digital, dimana kita membayar per terbitan yang ingin kita download.

Pergeseran ini betul betul jadi tambang emas bagi para pengembang di bidang online, seperti web developer, web designer, internet marketing, web consultant, dan lain lain :) sudah seharusnya para pekerja dibidang ini memanfaatkan momen ini untuk mendulang emas, tidak hanya sekedar berkutat pada adsense / penjualan komputer / spamming / affiliate, tetapi juga harus mencoba menelurkan ide, walau harus mencontek dari luar negeri, selama itu cocok dan “khusus” untuk pasar Indonesia, kenapa tidak?

Oh ya, saya sedang menganalisa bagaimana perbandingan pendapatan untuk surat kabar online dan surat kabar cetak, segera setelah saya dapatkan datanya, akan saya publikasi.

1Menghitung (Sisa) Waktu Keberadaan Suratkabar, LP3Y, [http://www.lp3y.org/index.php?pilih=lihat&id=177]

2Publishing 2.0, [http://publishing2.com/2007/07/17/newspaper-online-vs-print-ad-revenue-the-10-problem/]

3Rival Magazine Publishers Plan to Launch iTunes for Magazines, ReadWriteWeb, [http://www.readwriteweb.com/archives/rival_magazine_publishers_plan_to_launch_an_itunes_for_magazines.php]

Leave a Reply