Acara budaya, jiwa budaya dan pasar budaya

bagikan ..Share on FacebookTweet about this on TwitterPin on PinterestShare on Google+Share on Tumblr

11 oktober 2009
Lewat depan taman parkir AbuBakarAli malioboro, ada acara ‘budaya – budaya’, siang siang, panas panas, dengan peserta bener2 orang dari ‘kampung’, berdandan sedemikian rupa seperti ‘jaman dulu’.

Yang menyebalkan (karena hari ini panas, semua terlihat menyebalkan):

1. Pakaian: pakaian adat jawa kasual (tidak formal) yang digunakan kelihatan lucu digabung dengan aksesoris modern, seperti headphone, sandal model terkini, wanita dengan bawahan jeans .. ini model baju adat harus dihilangkan (karena toh sudah jarang digunakan, atau malah malu menggunakan) atau malah harusnya di ‘respon’ menjadi baju modern (definisi modern?)? dihapus juga ok, tetep ada ya gak peduli, mau di-moderni-sasi-kan juga terserah ..

2. Acara budaya ini seperti acara2 yang laen, menjual budaya, puluhan orang diambil dari kampung, dikasi baju, dikasi duit, dikasi peralatan, dinaikkan truk (gak manusiawi!), disuruh memperagakan sesuatu dari ‘kampung’ / ‘desa’ atau sesuatu dari langit yang disebut ‘budaya’. Nanti disitu ada fotografer, video, panitia, spg2 rokok, penonton yang berhenti menonton diatas motornya, sambil sms-an dengan orang-lain, dan …. selesai. semua pulang semua bahagia ..
Lah, terus ngapain? lha tadi itu apa? semacam badut yang lewat dan cukup dinikmati sambil mencuci mata? binatang2 yang lucu berkain batik? sial ..
Ketika seorang anak bertanya kepada bapaknya (yang berhenti di pinggir jalan, tetap duduk diatas motornya, dengan mesin motor tetap hidup), apa itu, maka jawaban atau penjelasan si bapak akan berbeda dengan penjelasan dari beberapa bapak dan ibut yang ada disitu … siallll

Serius, ini serius .. dari sebuah acara budayaaaaa, katakanlah kirab, kita ambil sample acak saja, misal berjalan dari hulu malioboro ke hilirnya, ada berapa definisi tentang ‘kegiatan budaya’ itu? yang ditularkan dari bapak ke anak, yang kemudian diceritakan oleh si anak ke pacarnya, yang kemudian diteruskan ke anaknya dst dst ..

Ke-sebel-an ini kutumpahkan jadi sebuah pertanyaan (ilmiah) -> ‘apa yang harus dilakukan orang2 sistem informasi untuk memecahkan masalah ini?’ .. yang lalu muncul pertanyaan baru -> ‘lah emang ini masalah? gak ada masalah kok … ‘

auk ah ..

3. males! wis males mikir … terusin dewe!

Lupa, satu lagi …

Semalem bantu2 bikin stan diacara pasar budaya … budaya opo? binun atu .. (untuk panitia pasar budaya, sip!)