CAFTA dan bangsa Indonesia

bagikan ..Share on FacebookTweet about this on TwitterPin on PinterestShare on Google+Share on Tumblr

2010 ini bangsa kita sudah setuju untuk melaksanakan CAFTA, sebuah perjanjian China dan ASEAN untuk perdagangan bebas. Perdagangan bebas ini maksudnya lebih ke kemudahan tiap anggota untuk saling mengirim (ekspor) produk ke negara anggota lainnya.

Banyak kekuatiran dari kalangan bisnis di Indonesia bahwa infrastruktur kita (baca: Indonesia) tidak atau belum mendukung program ini, apalagi dengan membanjirnya produk dari luar negeri yang murah, akan menghancurkan produsen dalam negeri. Produk yang jelas saya lihat akan masuk adalah di bidang tekstil, contoh sederhana adalah masuknya Batik China ke pasar pasar tradisional Indonesia, yang memang lebih murah daripada produksi batik Indonesia. Belum lagi sekarang sering kita jumpai produk buah buah murah yang dijual di pinggir jalan, yang merupakan produk import dari China, dan mungkin perlahan tapi pasti kita bakalan melihat banyak produk dari berbagai negara masuk ke kita, mungkin beras Vietnam, gula Thailand, hingga (paling parah) buruh bangunan dari negara lain.

Apakah bangsa kita akan menjadi negara konsumen? bukan lagi menjadi negara produsen? CAFTA ini ditandatangani pada tahun 2006 oleh delegasi Indonesia dan didampingi oleh Bapak Presiden SBY, tetapi hingga hari ini surat kabar dan media dipenuhi oleh tulisan bahwa kita belum siap untuk CAFTA, dari segala sudut pandang, dari mulai pejabat, organisasi, hingga gabungan penguasaha, menyatakan ketakutannya, rasa pesimis. Sebuah tulisan bagus hari ini di Kompas adalah “siap tidak siap CAFTA sudah didepan mata”, ya sudah jelas bahwa kita setuju dan menandatangani kesepakatan ini pada tahun 2006, dan hari ini kita bilang tidak siap?

Saya sendiri sudah sejak 2009 lalu berpikir keras tentang bagaimana saya bisa mengambil keuntungan dari CAFTA ini, dan memang hingga hari ini saya belum mendapatkan ide tentang itu, tetapi alangkah baiknya semua insan ekonomi dan juga pemerintahan, bahu membahu dengan para ilmuwan, mahasiswa hingga warga negara biasa untuk melihat CAFTA ini sebagai tantangan, bukan malah kendor dan berkilah.

Saya bukan ekonom atau pengusaha apalagi penguasa, tetapi mari kita lihat ketakutan ini dan mari kita pilah ->

A. Indonesia menjadi konsumen
ya, dengan bebas masuknya (baca: murah) produk dari luar negeri yang kemudian memang lebih murah dari produk dalam negeri, misal tekstil, maka ditakutkan bahwa orang akan pindah hati membeli produk “import” ini. Saran saya adalah dengan (menurut pandangan saya sebagai orang awam) ->
– hilangkan imaji bahwa barang “import” lebih bagus
– mari kembali berbudaya untuk tidak menggunakan “bajakan”, minimal mengurangi
– para mahasiswa mulai untuk “membuat” dan “berkarya”, tidak hanya sekedar lulus kuliah kemudian bekerja di tempat orang lain, mari mulai membuka lapangan kerja
– penguatan sektor pendidikan karena ini merupakan modal awal bagi bangsa ini, selain sumber daya alam yang loh jinawi dan tidak pernah kekurangan ini (mimpi lama)
– produsen lokal harus konsentrasi pada kualitas, juga kepada diverifikasi produk

B. Indonesia tidak bisa bersaing
– jika memang tidak bisa bersaing di bidang harga, maka bersainglah di bidang kualitas, membuat sebuah produk yang “ekonomis” sekarang merupakan solusi tepat.
– pengusaha mulai menghitung lagi kenapa produk mereka lebih mahal
– ada perbaikan dalam berbagai macam sektor kebijakan seperti transportasi, pungutan, ijin dan segala macam yang sering dikeluhkan oleh penguasa sebagai pencipta “pungli”
– lagi lagi infrastruktur … pemerintah sendiri juga harus berbenah, karena benteng terakhir sebuah negara adalah pemerintah
– para calon pekerja atau pekerja harus mulai untuk “update” kemampuan mereka, karena persaingan akan lebih keras, dimana banjir produk juga diikuti banjir pekerja “murah dan berkualitas” dari luar negeri 🙂

Ok,
satu hal terakhir yang saya lihat bisa menjadi kekuatan besar kita adalah INFORMASI, gunakan senjata ini untuk mengambil kue dari CAFTA.
Tabik Hari Baik!