Mbah Maridjan ~ Mas Penewu Suroksohargo

bagikan ..Share on FacebookTweet about this on TwitterPin on PinterestShare on Google+Share on Tumblr

Selamat jalan mbah marijan ..

itu berita hari ini dan terutama kemarin, seiring pemakaman beliau di dusun Srunen, Desa Glagahharjo, Cangkringan, Sleman DIY. Mbah Marijan merupakan seorang abdi dalem dari Kraton Yogyakarta sebagai Juru Kunci dari Gunung Merapi, dengan gelar Mas Penewu Suroksohargo, menggantikan ayahnya mulai tahun 1982.

Bertempat tinggal di desa Kinahrejo, berjarak hanya +/- 5 kilometer dari Puncak Merapi, desa ini beberapa kali terancam (atau bahkan terkena) serangan lahar serta awan panas dari Gunung Merapi. Banyak orang yang mempercayai kedudukan dia sebagai juru kunci dari Gunung Merapi menjadikannyaĀ  memiliki kekuatan gaib sehubungan dengan aktivitas gunung Merapi.

Sebagaimana kita ketahui, pada beberapa kejadian awan panas, yang saya ingat itu tahun 1996, kemudian 2006, awan panas seperti tidak pernah memasuki daerahnya, seperti berbelok ketika akan mengarah ke kampung kinahrejo. Pada tahun 1996 awan panas menyerang kaliurang, sebelah barat dari kinahrejo, lebih rendah posisinya dari kinahrejo, menewaskan beberapa orang, kemudian kejadian pada tahun 2006 ketika awan panas menyerang kaliadem, menewaskan 2 orang yang bersembunyi di bunker perlindungan, awan panas berhenti beberapa ratus meter dari desa kinahrejo.

Setiap kali pihak BMG menaikkan status merapi, dan mengumumkan pengungsian, ada beberapa kali mbah marijan tidak menghiraukannya, karena itulah banyak orang percaya pada Mbah Marijan, bahwa belum ada “bisikan” untuk mengungsi ..

Ketika kejadian tahun 2006, Mbah Marijan bahkan menolak untuk mengungsi, ketika semua orang diharuskan mengungsi, bahkan junjungannya sendiri, Sri Sultan Hamengkubuwono X menyarankan Mbah Marijan untuk turun mengungsi, tapi mbah marijan ini tetap ngeyel untuk bertahan. Beredar gosip bahwa mbah marijan itu dibawah junjungan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, bukan yang ke X, tapi saya rasa bukan itu masalahnya, kemungkinan besar lebih karena Mbah Marijan memang tidak melihat tanda akan ada serangan awan panas ke kampungnya ..

Tentang Mbah Marijan menentang perintah Sri Sultan Hamengkubuwono X merupakan hal yang menarik untuk saya, yang saya lihat sudah pasti Mbah Marijan merupakan abdi dalem dari Kraton, yang saat ini di pegang oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X, sehingga bagaimanapun juga Mbah Marijan harus tetap menjunjung junjungannya. Menarik disini adalah langkah Sri Sultan Hamengkubuwono X menyarankan Mbah Marijan untuk turun mengungsi adalah kesalahan besar, baik secara etika maupun politis, kenapa? karena layaknya nahkoda, Mbah Marijan ingin menjadi orang yang tetap berada di atas kapal dan menjadi orang terakhir yang bertahan di kapal pada saat adanya bencana. Sri Sultan juga secara politis dipermalukan oleh penolakan itu, seakan abdi dalemnya atau bawahannya “mbalelo” / melawan perintahnya, yang seharusnya jika Sri Sultan mengerti situasi dan memahami Mbah Marijan, mungkin dia bisa bilang “ya itulah Mbah Marijan, dia yakin dengan apa yang dia percayai, dan sebagai juru kunci, maka dia menjadi orang terakhir yang berada disana” ..

Siapa itu Mbah Marijan, selain artis iklan minuman kuat?
secara pribadi, saya sejak kecil sudah mengenalnya dengan baik, saya masih ingat ketika kecil suka bermain dengan mbah satu ini, minta gendong serta bermain dengan cucu cucunya di rumahnya yang selalu ramai. Kunjunganku ke merapi hampir minimal sebulan sekali. Ya aku berterimakasih kepada kedua orangtua ku yang pendaki gunung, sehingga sempat mencicipi kedekatan dengan beliau, bahkan hingga beberapa tahun yang lalu adikku Samuel sempat maen keatas (istilah kami di jogja) bertemu dengan beliau dan beliau masi ingat dengan orang tua saya dan juga si Samuel, alangkah baik ingatannya untuk orang yang sudah berusia 80an tahun.

26 Oktober 2010
malam itu merupakan perjalanan saya dari Purwokerto ke Jogja, jam 21.30 saya lepas landas dari Purwokerto dengan bis, sepanjang jalan menuju jogja debu begitu tebal, semua orang bercerita tentang meletusnya gunung merapi .. saya kontak kawan2 di jogja tidak ada apa2, jadi sekali lagi jogja selamat dari bencana, hingga malam hari ketika tiba di jogja dan melihat berita, nampak bahwa Mbah Maridjan menjadi korban karena tidak mengungsi. Dari yang saya baca di berita, mbah maridjan sudah memperingatkan semua orang untuk mengungsi, ini jelas beda dengan kejadian sebelumnya, ketika dia tidak ngotot untuk memerintahkan orang mengungsi, jadi nampaknya beliau sudah mendapat “bisikan” bahwa sesuatu bakal terjadi. Pada hari itu dia meninggal, menjadi nahkoda di kapal yang sedang terkena bencana ..

Kota Jogja sekali lagi harus berterimakasih kepada beliau,

Teladan yang saya dapat dari beliau adalah pengabdiannya dalam melaksanakan tugasnya, sebagai Juru Kunci Gunung Merapi, sesuatu yang tidak mudah, dan dilaksanakan dengan sepenuh hati. Ingin sekali rasanya meneladani beliau untuk setia dan teguh pada suatu pekerjaan, sesuatu yang susah pada saat ini šŸ™

Selamat jalan mbah,