Detasemen Anti Anarki: mainan baru polisi

bagikan ..Share on FacebookTweet about this on TwitterPin on PinterestShare on Google+Share on Tumblr

Menanggapi peristiwa temanggung dan ahmadiyah di banten februari 2011 lalu, kepolosan eh kepolisian Indonesia membuat detasemen baru, yaitu detasemen anti anarki, yang khusus untuk menanggulangi kejadian seperti diatas. Di tv dijelaskan nanti tiap detasemen bakalan ada di semua propinsi di Indonesia, terutama propinsi yang sering terjadi anarki.

Detasemen ini rasanya mirip dengan PHH ya, pengendali huru hara, tetapi huru dan hara masih dalam kategori tidak anarki, sehingga butuh level berikutnya, yaitu anarki, seperti debt collector aja punya 3 level 🙂 detasemen ini juga diperlengkapi dengan Protap Nomor 01/X/ 2010 tentang Penanggulangan Anarki yang mengatur tembak di tempat.

“anarki merupakan bentuk pelanggaran hukum yang membahayakan keamanan dan mengganggu ketertiban umum masyarakat sehingga perlau dilakukan penindakan secara tepat, dan tegas dengan tetap mengedepankan prinsip-prinsip Hak Asasi Manusia (HAM) serta sesuai ketentuan perundang undangan yang berlaku”

Download disini Protap-Nomor-01-X-2010-tentang-Penanggulangan-Anarki

di protap tersebut ada lengkap tentang semua hal yang berhubungan dengan anarki, termasuk “menangkap semua orang yang menggunakan lambang A, baik di badannya ataupun di bajunya / celananya, juga di depan rumahnya / pagar rumahnya” he he he .. (boong kok)

ada yang lucu dari protap ini, yaitu cara memperingatkan massa yang sedang buas untuk bubar, seperti tindakan tembakan peringatan

“SAYA SELAKU PETUGAS KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA ATAS NAMA UNDANG-UNDANG SAYA PERINTAHKAN AGAR MENGHENTIKAN ANARKI. APABILA TIDAK MENGINDAHKAN PERINTAH AKAN
DILAKUKAN TINDAKAN TEGAS”

hi hi hi .. bisakah anda menghentikan anarki?

detasemen ini jelas payah, toh pake PHH aja sebenarnya cukup, mendingan dikuatin aja intelijen dan juga humas atau pendidikan kepada masyakarat, serta yang paling penting adalah penegakan hukum yang jelas menjadi alasan seseorang berbuat anarki (karena kecewa maupun karena tidak takut pada hukum)