Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin dan pelestarian aset nasional

bagikan ..Share on FacebookTweet about this on TwitterPin on PinterestShare on Google+Share on Tumblr

Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin yang bertempat di Lantai 2 Gedung Galeri Cipta II Kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Jalan Cikini Raya No 73, Jakarta Pusat merupakan tempat dokumentasi arsip kesusastraan nasional Indonesia didirikan oleh H.B. Jassin pada tanggal 28 Juni 1976.

Menurut informasi, ketergantungan PDS ini pada subsidi pemerintah membuatnya bisa dibilang tidak bisa bertahan menghadapi tingginya biaya biaya yang harus ditanggung,  sehingga bisa menjurus kepada ditutupnya PDS ini. Banyak kalangan khawatir tentang penutupan ini, sehingga mulai banyak pihak yang merasa perlu untuk memperjuangkan keberadaan PDS dengan beberapa cara, seperti pengumpulan donasi dari seniman, LSM juga bergerak, bahkan provider telepon seperti XL pun membuka sumbangan donasi melalui sms

Yang mengherankan buat saya adalah sebenarnya berapa sih subsidi dari pemerintah, serta berapa total pengeluaran dari PDS tersebut, dan jika memang pengeluaran lebih besar dari pemasukan, mungkin karena pemerintah memang kurang peduli dengan bidang seperti museum ataupun budaya, sehingga uang yang dikeluarkan cuma sedikit, tetapi kita juga perlu mempertanyakan kepada para pengurus PDS sendiri, apakah mereka juga melakukan inovasi untuk menutupi kekurangan ini? karena saya lihat kita sering selalu menyalahkan pemerintah dalam memberikan subsidi yang katanya selalu kurang, nah takaran kurang itu seberapa sih? saya lihat banyak pihak swasta yang hanya memiliki keuangan sedikit biasanya terpacu untuk melakukan inovasi agar dapat meningkatkan pemasukan ..

jadi seyogyanya pihak manajemen dari PDS juga memikirkan langkah yang tepat untuk melakukan perbaikan, baik SDM maupun manajerial serta strategi bisnis mereka, agar PDS juga bisa tetap hidup tanpa hanya lagi lagi mengandalkan subsidi dari pemerintah

perlu adanya lembaga think-tank yang memberikan masukan garis kebijakan secara menyeluruh bagi semua pengelola aset nasional terutama di bidang budaya, karena tentunya kita tidak ingin kehilangan catatan tentang sejarah kita kan ..