Archive for the ‘ 2009 ’ Category

0
9
Dec

Interaksi penguna dan (hasil) pembuat (desainer) melalui komputer

Ini judul yang disarankan oleh dosen ku dikelas, ketika kami belajar tentang Interaksi Manusia dan Komputer. Judul diatas menurut dia lebih tepat untuk menggantikan IMK (interaksi manusia dan komputer), karena sebenarnya (menurut pak dosen) hubungan yang terjadi (tidak hanya) antara manusia dengan komputer, tetapi lebih detil lagi antara pengguna (pengunjung, pengguna, anggota dll) dengan (hasil) desainer yang melalui komputer sebagai medianya.

Dengan konsep ini, diharapkan pembuat berpikir lebih luas, keluar dari kotak, lebih menitikberatkan kepada konsep penjual dan pembeli, pemilik dan pengguna, pemberi layanan dan pengguna layanan. Konsep ini kemudian membuat pengguna sebagai target “hasil” pembuat puas dan menyukai apa yang ditawarkan oleh “pembuat”. Konsep ini disebut bisa disebut “user friendly” (ramah pengguna), tetapi jika kita berbicara tentang situs (website) / internet dan atau online, maka kita harus lebih mengkhususkan konsep ini menjadi “reader friendly” (ramah pembaca), karena dalam dunia situs, pengguna dianggap sebagai pembaca, yang mempunyai banyak pilihan bacaan, dan akan mudah sekali pindah ke situs yang lain jika tidak puas dengan apa yang ditawarkan.

Interaksi ini kemudian dilakukan dalam bentuk dialog, bisa dalam bentuk halaman situs, widget (apa sih ini padanannya?), atau lainnya, yang merupakan interaksi antara pembuat (melalui hasilnya) dengan pengguna (atau pembaca), dengan segala fitur fiturnya yang disediakan, dan memiliki suatu tujuan tertentu (pengguna membeli produk, pengguna mau membayar keanggotaan, pengguna mau membaca dll)

Sebuah sistem (hasil karya desainer) alangkah baiknya jika mempunyai beberapa sifat seperti ->

- luwes
- semudah mungkin
- konsistensi (theme, font, dll)
- umpan balik (fitur komentar, form kritik, via email, dll)
- kontrol (navigasi dll)

Poinnya adalah bagaimana membuat sebuah aplikasi / fitur / situs dapat menyampaikan informasi yang diinginkan kepada pengguna.

ok?

0
9
Dec

Kepoliglotan orang Indonesia

Lagi mendengarkan presentasi di kampus, kelas S2 Ilmu Komputer, dan begitu banyak kosakata di bidang internet atau komputer yang (masih) menggunakan bahasa asing (ini bisa diperdebatkan, tidak ada yang salah dengan penggunaan istilah asing) tanpa menggunakan padanan, seperti yang bisa dilihat pada PANDUAN PEMBAKUAN ISTILAH (INSTRUKSI PRESIDEN NOMOR 2 TAHUN 2001).

Tidak ada yang salah dengan penggunaan bahasa asing (bisa diperdebatkan) pada tulisan atau presentasi atau artikel berbahasa indonesia, tetapi saya sendiri sebagai orang indonesia, bekerja di bidang internet, berpendidikan, beruntung bisa kuliah sampe S2, di bidang komputer lagi, sudah selayaknya harus mulai belajar untuk menerapkan penggunaan padanan dalam bahasa indonesia untuk istilah asing. Jika tidak, siapa lagi? apa kita mau jadi seperti malaysia?

Selain padanan kata, hal lain yang menggelitik saya ketika mencari referensi tentang Padanan diatas adalah Poliglot. Definisi singkat dari Poliglot adalah orang yang bisa berbicara atau menggunakan banyak bahasa. Berikut cuplikan dari Panduan Pembakuan Istilah

Bangsa  Indonesia pada  dasarnya  bersifat poliglot.  Oleh karena itu,  penggunaan  istilah yang  berasal  dari  bahasa asing  asal ‘tampak’ seperti  bahasa Indonesia tidak  akan merupakan masalah. Dalam  percakapan lisan  ‘didel’  dibenarkan dipakai disamping ‘ dihapus’.  Akan tetapi, untuk bahasa tulis  sebaiknya dipakai istilah ‘dihapus’

Yah, memang benar, saya merasa sering dengan mudahnya mengadaptasi bahasa dengan seenak enaknya, seperti contoh diatas. Misal “didel” atau “dikopi aja”, itu sering saya lakukan, dan ada banyak contoh lainnya. Kebiasaan ini mungkin juga yang kemudian mempengaruhi saya (dan mungkin juga orang lain) ketika bercakap cakap.

Mungkin ini ke-poliglot-an orang Indonesia yang membuat kita tidak suka menggunakan padanan kata untuk bahasa asing, karena toh bahasa asing tersebut ‘tampak’ dan ‘mudah’ dimengerti seperti bahasa Indonesia sendiri, jadi kurasa adaptasi adalah kelebihan orang Indonesia juga :)

Mungkin bangsa ini juga akan menjadi seperti negara malaysia, yang sudah banyak menggunakan bahasa inggris di kosakata hariannya, dan juga mungkin dalam 20 tahun ke depan hanya ada satu bahasa, bahasa inggris, Lingua Pura (bahasa murni, katanya)

0
1
Dec

Sister of Ronald McDonald, burgernya enak :)

Seperti biasa, eksploitasi “burger” wanita, detil banget di iklannya McDonald yang satu ini ->

menampilkan saudari-nya si Ronald McDonald, berjoget, lengkap dengan ending yang wadow .. ampe netes netes .. agak 17+ pesannya .. he he he he ..

kapan nih laki2 di “eksploitasi” .. mau donggg dong dong dong …

0
29
Nov

Digital Magazine: kolaborasi majalah untuk jualan onlin

No News is Bad News ~ gambar dari LP3Y

No News is Bad News ~ gambar dari LP3Y

Online, kemajuan teknologi ‘memaksa’ surat kabar cetak untuk beralih ke media baru ini, seiring semakin banyaknya pengguna yang memilih membaca berita melalui peralatan digital mereka seperti komputer, handphone ataupun e-reader. Beberapa surat kabar Indonesia juga sudah mulai men-digital-kan berita mereka melalui website (dan hanya beberapa yang sukses), dengan harapan bisa memenangkan pasar di dua dunia, offline dan online, atau bahkan hanya konsentrasi kepada online saja.

Banyak riset yang memberikan statistik betapa besarnya pasar pengguna online, untuk di Indonesia, seperti yang diberikan oleh LP3ES1, saat ini media cetak masih akan bertahan 10 hingga 15 tahun kedepan, tetapi untuk di (contoh) Amerika, pergeseran ini begitu besar, yang bahkan memaksa beberapa suratkabar cetak gugur. Saya belom menemukan statistik untuk pembaca online, tetapi ada sumber bagus tentang statistik pengguna online di New York Times2, dimana pengguna (pada tahun 2007) pengunjung website sebesar 13juta, sedangkan oplah cetak adalah 1juta, sehingga kita bisa lihat begitu besarnya pengguna online, walaupun hanya beberapa halaman saja yang dibaca, tetapi dengan statistik diatas dapat disimpulkan bahwa media online lebih banyak pengunjung (kesimpulan ini berdasarkan statistik diatas).

Lalu bagaimana dengan majalah? Seharusnya (ini asumsi) majalah pun memiliki permasalahan yang sama dengan suratkabar, yang menuntut mereka juga untuk memutar otak membuat terobosan dalam dunia online, tidak sekedar hanya membuat website, tetapi menguatkan fitur yang bisa digunakan untuk menjaring pengunjung.

Bulan ini ada informasi3 bahwa Time, People, Vanity Fair, Sports Illustrated, The New Yorker and Esquire sedang berusaha mengembangkan sebuah toko online seperti iTunes, yang menawarkan pembelian majalah digital secara online. Konsep ini berbeda dengan website standar, yang biasanya hanya menawarkan berita secara gratis, atau harus berlangganan per bulan (sebagai member). Konsep majalah ini (ini juga asumsi) seperti toko musik digital, dimana kita membayar per terbitan yang ingin kita download.

Pergeseran ini betul betul jadi tambang emas bagi para pengembang di bidang online, seperti web developer, web designer, internet marketing, web consultant, dan lain lain :) sudah seharusnya para pekerja dibidang ini memanfaatkan momen ini untuk mendulang emas, tidak hanya sekedar berkutat pada adsense / penjualan komputer / spamming / affiliate, tetapi juga harus mencoba menelurkan ide, walau harus mencontek dari luar negeri, selama itu cocok dan “khusus” untuk pasar Indonesia, kenapa tidak?

Oh ya, saya sedang menganalisa bagaimana perbandingan pendapatan untuk surat kabar online dan surat kabar cetak, segera setelah saya dapatkan datanya, akan saya publikasi.

1Menghitung (Sisa) Waktu Keberadaan Suratkabar, LP3Y, [http://www.lp3y.org/index.php?pilih=lihat&id=177]

2Publishing 2.0, [http://publishing2.com/2007/07/17/newspaper-online-vs-print-ad-revenue-the-10-problem/]

3Rival Magazine Publishers Plan to Launch iTunes for Magazines, ReadWriteWeb, [http://www.readwriteweb.com/archives/rival_magazine_publishers_plan_to_launch_an_itunes_for_magazines.php]