Tagged: gereja RSS

  • plentonk 5:58 pm on 25 January 2010 Permalink | Reply
    Tags: gereja, katolik, kristen, teknologi   

    Pesan Paus BENEDICT XVI dalam WORLD COMMUNICATIONS DAY ke 44 

    24 Januari 2010 Vatican mengeluarkan pesan kepada dunia, terutama kepada para pastor / pendeta dan juga kepala gereja untuk mulai aktif menggunakan peralatan digital untuk berkomunikasi dengan jemaatnya, terutama kalangan anak muda. Pesan ini disampaikan untuk WORLD COMMUNICATIONS DAY ke 44.

    Dalam pesan tersebut, Paus mengajak para pendeta untuk “employing the latest generation of audiovisual resources” seperti gambar, video, animasi, blog dan juga website. Dengan penggunaan peralatan digital ini, pendeta dan juga gereja bisa mengenalkan gereja, kegiatannya, dan mengekspresikan pesan mereka tidak hanya terbatas pada teori semata, tetapi juga “as something concrete, present and engaging”, sesuatu yang nyata dan kekinian.

    Pesan ini mungkin membuat banyak proposal pembuatan website masuk ke gereja, salah satunya mungkin dari tempatku :) tetapi saya masih harus mempelajari sejauh mana penerapan teknologi ini bagi gereja, sehubungan dengan konsep agama itu sendiri, pengajaran / penginjilan, hingga pelayanan. Semoga juga pesan Paus ini kemudian tidak membuat gereja terjebak dalam pemanfaatan teknologi yang “kristenisasi” atau “katolikisasi”, atau bahkan membuat medan pertempuran SARA baru.

    Amin.

     
  • plentonk 2:12 pm on 17 January 2010 Permalink | Reply
    Tags: gereja, hari minggu, renungan   

    Pak Ali, Terang dan rumput tetangga 

    Hari Minggu.

    Pagi tadi ke gereja, seorang pendeta batak marga hutabarat bercerita tentang pak ali, begini ceritanya ->

    Pada suatu siang hari pak budi melihat pak ali tetangganya sedang mencari cari sesuatu di halaman depan rumahnya, mondar mandir kesana kemari. Datanglah pak budi menghampiri pak ali (rasa keingintahuan khas budaya timur .. no offense),

    “sedang apa pak?” tanya pak budi,

    “sedang mencari jarum” jawab pak ali sambil terus melihat kebawah.

    “emang jatuh dimana pak” pak budi tanya lagi sambil mulai mencari juga, sambil tak lupa menengok sandalnya untuk memastikan bahwa dia menggunakan alas kaki.

    “jatuhnya di dalam rumah” … jawab pak ali kalem sambil terus mencari ..

    “laaahhh …. ” pak budi gubrak, “kok nyarinya diluar pak? kalo jatuhnya di dalem ya cari didalem lah”

    “disini terang pak budi, kalo didalem gelap, males” jawab pak ali.

    Cerita berhenti disini.
    Cerita ini mengena sesaat pada diriku, sehubungan dengan permasalahan yang aku hadapi hari hari ini .. “jarum yang hilang” tadi harusnya dicari saat itu juga ketika hilang, walaupun gelap, penuh rintangan, tetapi memang itu keharusan untuk “menemukannya”, bukan dengan cara kemudian keluar mencari “di tempat yang terang”, sebuah cara yang mudah, yang instan, yang tidak menyelesaikan masalah.

    Cerita diatas sama dengan cerita tentang “rumput tetangga TERLIHAT lebih baik dari rumput rumah kita sendiri”, sehingga orang kemudian pergi meninggalkan “rumputnya” dan tinggal di “rumput tetangga”. Akan bagus jika kita setelah melihat “rumput tetangga” lebih bagus, kemudian tertantang untuk memperbaiki “rumput halaman sendiri”, bukan dengan pindah ke “rumput tetangga”. Tetapi ide yang cukup gila adalah mencicipi “rumput tetangga” kemudian balik ke “rumput rumah sendiri”, untuk menyakinkan kalo “rumput rumah” tetap lebih enak, walaupun memang perlu diperbaiki :D

    selamat hari minggu!

     
c
compose new post
j
next post/next comment
k
previous post/previous comment
r
reply
e
edit
o
show/hide comments
t
go to top
l
go to login
h
show/hide help
esc
cancel