Pak Ali, Terang dan rumput tetangga
Hari Minggu.
Pagi tadi ke gereja, seorang pendeta batak marga hutabarat bercerita tentang pak ali, begini ceritanya ->
Pada suatu siang hari pak budi melihat pak ali tetangganya sedang mencari cari sesuatu di halaman depan rumahnya, mondar mandir kesana kemari. Datanglah pak budi menghampiri pak ali (rasa keingintahuan khas budaya timur .. no offense),
“sedang apa pak?” tanya pak budi,
“sedang mencari jarum” jawab pak ali sambil terus melihat kebawah.
“emang jatuh dimana pak” pak budi tanya lagi sambil mulai mencari juga, sambil tak lupa menengok sandalnya untuk memastikan bahwa dia menggunakan alas kaki.
“jatuhnya di dalam rumah” … jawab pak ali kalem sambil terus mencari ..
“laaahhh …. ” pak budi gubrak, “kok nyarinya diluar pak? kalo jatuhnya di dalem ya cari didalem lah”
“disini terang pak budi, kalo didalem gelap, males” jawab pak ali.
Cerita berhenti disini.
Cerita ini mengena sesaat pada diriku, sehubungan dengan permasalahan yang aku hadapi hari hari ini .. “jarum yang hilang” tadi harusnya dicari saat itu juga ketika hilang, walaupun gelap, penuh rintangan, tetapi memang itu keharusan untuk “menemukannya”, bukan dengan cara kemudian keluar mencari “di tempat yang terang”, sebuah cara yang mudah, yang instan, yang tidak menyelesaikan masalah.
Cerita diatas sama dengan cerita tentang “rumput tetangga TERLIHAT lebih baik dari rumput rumah kita sendiri”, sehingga orang kemudian pergi meninggalkan “rumputnya” dan tinggal di “rumput tetangga”. Akan bagus jika kita setelah melihat “rumput tetangga” lebih bagus, kemudian tertantang untuk memperbaiki “rumput halaman sendiri”, bukan dengan pindah ke “rumput tetangga”. Tetapi ide yang cukup gila adalah mencicipi “rumput tetangga” kemudian balik ke “rumput rumah sendiri”, untuk menyakinkan kalo “rumput rumah” tetap lebih enak, walaupun memang perlu diperbaiki
selamat hari minggu!