Posts Tagged ‘ perjalanan ’

2
8
Mar

Jakarta – Cirebon dengan Kondisi Rem 50%

Minggu 7 Maret 2010, Pintu Tol Jatibening Jakarta, 18.30, ketika itu saya berkempatan memilih untuk mencicipi keberanian pengemudi bis Jakarta – Cirebon, dengan klakson kapal yang besar di atapnya, lampu yang tidak terlalu terang, mesin tua, dengan ban belakangnya menggunakan vulkanisir, lengkap dengan tempat duduk yang sempit dan keras. Duduk tepat dibelakang pengemudi.

Perjalanan dimulai dengan begitu sempurna, di jalan tol berjalur 4, kecepatan dipacu kisaran 100km/jam, mesinnya menjerit begitu keras, berlenggak lenggok laksana kapal laut menghindari ranjau ataupun karang, menempel kiri kanan kendaraan lain .. begitu menegangkan mungkin bagi orang yang terbiasa dengan kehidupan tenang, tapi tidak diperdulikan oleh penumpang yang sudah terlihat lelah dan memilih berdoa dan memejamkan mata sambil memikirkan kehangatan rumah.

“Di darat Jayamahe”, di darat kita jaya, begitu semboyan bis menurut saya, ketika di tengah jalan, masih di tol, bis mencoba berhenti untuk mengambil penumpang dipinggiran jalan tol, ketika disadari rem-nya tidak berfungsi dengan baik, setelah dipacu 100km/jam dan mendadak menginjak rem, 1detik pertama respon bis terseok kekiri, detik berikutnya rem dilepas dan pengemudi mencoba menstabilkan bis, detik berikutnya rem di injak lagi dan pantat bis terseok kekanan, detik berikutnya rem dilepas lagi, stabil, detik berikutnya di injak lagi dan baru bisa berhenti ..

Setelah itu bis dipacu lagi, dan dimulailah percakapan pengemudi, kondektur dan kernet, yang sayang dilakukan dalam bahasa daerah yang saya kurang pahami, yang intinya mereka sedang membicarakan tentang kampas rem .. nampaknya rem bis ini bermasalah .. sepanjang tol pengemudi menggerutu terus, tetapi bis tetap dipacu penuh ..

keluar dari tol, barulah terasa beda, pengemudi terlihat lebih hati hati mengemudikan bisnya, tetap dengan mengomel, tetapi tidak lagi terlalu menempel kendaraan di depannya. Bis terasa bising, pengamen berlomba menjerit dengan seorang bayi, penjual tetap semangat berjaja, dan kernet yang berteriak teriak terus, sedangkan mesin berada didepan dan meraung keras ..

Walupun rem tidak berfungsi baik, bis ini tetap berlari dengan penuh, meninggalkan bis bis malam, satu persatu di lewati, sambil sesekali mencoba mengerem mendadak ketika ada penumpang dipinggir jalan .. injak, lepas, injak, lepas, injak lepas, baru berhenti .. setiap ada perempatan perempatan kecil klaksonnya berteriak seperti berteriak “minggir, saya tidak bisa berhenti mendadak” ..

berkali kali sepeda motor yang sedang menyeberang hampir tertabrak, karena bis ini memilih untuk tidak mencoba untuk mengerem .. bahkan beberapa kali pantat bis di depannya hampir dicium .. seorang penumpang pindah duduk agak kebelakang ..

seorang ibu membawa anaknya naik, dan langsung duduk di kursi belakang kernet, dan kernetnya bilang
“duduk di tengah aja bu”
ibu itu “sini aja, kena angin”
kernet “masuk aja buk, ketengah .. kosong kok”
ibu itu “gak pa pa mas, sini aja”
kernet “bukkkk (agak marah), ke tengah aja”
ibuk itu dengan cemberut masuk ketengah ..

tidak sadarkah ibu itu kalo bis ini remnya gak berfungsi dengan baik?

seorang penjual makanan malah bertanya ke kernet “nge-rem-nya kok gak enak”
kernet menjawab “rusak, remnya kering” (pake bahasa daerah, kurang mengerti, hanya kata2 itu yang tertangkap)

penjual makanan tadi malam duduk di atas kap mesin dan mengobrol dengan pengemudinya .. dia bukannya takut malah melihat hal ini sebagai sebuah permainan yang indah ..

lepas dari pertigaan indramayu, belok kanan, bis dipacu lebih gila lagi, karena terlihat bis saingannya ada didepan, suatu ketika ketika mencoba menyalip 2 buah bis, dengan brutalnya memaksa sebuah mobil dan becak (dari arah berlawanan) turun ke jalan, karena rem bis ini tidak cukup untuk menghentikan laju sehingga pengemudi memilih untuk memaksa kendaraan lain minggir ..

aku hanya tersenyum .. menyenangkan :D

mendekati tempatku turun, lewat dari sebuah lampu merah, posisi ada di kiri menempel bis merah (hayo apa), mendadak bis merah di depan kami lampu remnya menyala terang, pengemudi bis ku terkejut, mencoba mengerem tapi sudah dekat, terpaksa buang kanan, dan dari belakang terdengar jeritan klakson bis, ban bis kami sedikit menyenggol pembatas jalan di kanan, tapi bis selamat, dan kernet menyumpah serapah kepada bis merah setelah bisa kami lewati ..

bis masi digenjot dengan semangat, kayaknya pengemudi lupa kalo remnya gak “makan” ..

sudah dekat tempatku turu, bersiap dan “injak lepas injak lepas injak lepas”, bis agak berenti, aku lompat dan berteriak “terimakasih” ..

terimakasih untuk pengalaman yang berharga tapi berbahaya ini :)
pintu tol jati bening jakarta 18.30, pintu tol palimanan 22.58

0
8
Mar

Nenek moyangku bangsa pemberani: Bis Di Indonesia

Hari minggu 7 Maret 2010 menunggu bis untuk kembali ke jogja di Pintu Tol Jatibening Jakarta, sambil mengamati bis baik bis kota maupun bis luar kota.

Nenek moyang ku bangsa pelaut, begitu kita sering dengar tentang keberanian dan kemampuan nenek moyang kita di lautan, seperti juga slogan “Jalesveva Jayamahe”, di lautan kita jaya, sebuah seruan keberanian dan semangat Angkatan Laut TNI.  Nah, sambil menongkrong di jatibening itulah saya juga melihat bis bis di Indonesia terlihat seperti gerombolan kapal di lautan, tersebar banyak, menjadi andalan dalam transportasi darat.

Jika di lautan kapal kapal Indonesia beserta pelautnya terkenal berani mengarungi lautan yang ganas dengan kapal yang terbatas peralatan, bis di Indonesia saya lihat juga mempunyai keberanian yang sama. Coba lihat banyak sekali bis yang terlihat sudah menyedihkan, mulai dari bodi yang terlihat reyot, lampu yang tidak terang, ban belakang vulkanisir (ban bekas tipis yang ditambahkan lapisan karet), mesin yang sudah tua, kampas rem palsu / kualitas 2 bahkan 3, tempat duduk yang sempit dan sudah rusak disana sini, hingga kualitas pengemudi yang muda atau kurang berpengalaman, asal jalan lah .. tidak pula perlu kita pikirkan emisi gas buang bis tersebut apakah sudah memenuhi standar (Euro 1/2/3) ..  bis bis ini dengan keberanian sempurna tetap berjuang mengarungi kepadatan jalanan, ber-zig-zag memacu kendaraannya, mencoba mengais penumpang sebanyak banyaknya, tanpa memperdulikan penumpang yang sudah lelah terhimpit bak ikan dalam kaleng tua ..

Keberanian para pengemudi ini kemudian saya buktikan sendiri dengan menaiki sebuah bis tua yang boleh dibilang mempunyai mental yang sama dengan para pelaut kita mengarungi lautan yang ganas. Dengan keterbatasan lampu yang tidak terang, dan rem yang hanya berfungsi 50% sehingga membutuhkan jarak yang cukup lumayan untuk berhenti, pengemudi ini tetap dengan sempurnanya menginjak gas hingga kecepatan 100km/jam, dengan klakson kapalnya yang besar layaknya sebuah kapal di bunyikan setiap kali melewati simpang simpang di jalur pantai utara, sebuah peringatan bahwa maut mendekati anda dan lebih baik anda minggir.

Nenek moyangku adalah bangsa pemberani, pengemudi bis adalah orang yang pemberani, tetapi apakah keberanian ini sebanding dengan nyawa penumpang yang dipertaruhkan? Banyak juga penumpang yang tidak peduli dengan nyawanya, seperti yang saya, yang malah memilih untuk duduk di paling depan dan ngobrol dengan pengemudinya, bukannya memilih untuk turun ketika mengetahui bahwa remnya tidak berfungsi dengan baik. Apakah sebuah keberanian juga jika awak bis mengakui kepada penumpangnya bahwa bis bermasalah dan lebih baik para penumpang berganti bis?

Apakah keberanian kita sementara ini lebih karena alasan perut / uang / ekonomi? seperti nelayan yang nekat berlayar meski ombak mengganas dengan alasan kebutuhan ekonomi?

Di darat kita jaya, dilautan kita jaya, karena uanglah semua jaya .. duh :(

Baca cerita perjalanannya disini.